cerita inspirasi 2

Azeliyan Dwi Puminda
E34100130
Laskar 11

Cerita ini berdasarkan kisah tentang usaha saya masuk ke IPB. Saya bersekolah di SMAN 1 Ciawi Bogor, saya bukanlah murid yang terlalu berprestasi, biasa-biasa saja. Tidak pernah mengikuti organisasi atau mengikuti olimpiade pelajaran.
Setelah lulus SMA saya memikirkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Teman-teman saya sudah ada yang mendapatkan universitas, sedangkan saya belum. Pada awalnya saya ingin kuliah di universitas Padjajaran Bandung, tidak memiliki ke inginan sedikitpun di IPB karena kakak saya di IPB, jadi saya ingin mencoba hal baru.
Saat akan ada seleksi penerimaan mahasiswa baru Unpad, sayapun mengikutinya. Saya langsung mendaftar dengan jurusan manajemen dan akan mengikuti tes di Bandung. Dengan teman kakak saya, saya pun pergi ke Bandung dengan harapan dapat di terima dan berkuliah disana. Karena mendengar berita kalau tes mandiri Unpad dan tesnya langsung di Bandung, kesempatan masuknya akan lebih besar. Saya pun tidak melakukan persiapan apapun. Mungkin karena tidak melakukan persiapan, saya gagal dalam tes. Saat itu saya sedih dan kecewa, karena segala hal yang sudah saya persiapkan menjadi sia-sia dan cita-cita saya untuk kuliah di Unpad tidak dapat terwujud.
Setelah kegagalan tersebut saya kembali mencoba untuk tes universitas. Saat itu kakak saya menyuruh untuk mengikuti UTM IPB, karena mendengar cerita-cerita kakak saya yang seru selama kuliah di IPB saya pun menjadi tertarik. Lalu saya mendaftarkan diri pada UTM IPB. Saat itu saya memilih jurusan agribisnis dan peternakan. Karena kurangnya persiapan saya pun kembali gagal.
Saya kembali kecewa dengan hasil yang saya terima, saya pun semakin bingung mau kuliah dimana lagi karena universitas yang menjadi tujuan saya tidak menerima saya untuk kuliah disitu. Jalan satu-satunya hanya melewati jalur SNMPTN. Namun pada waktu itu yang saya tahu kalau jalur tersebut memiliki kuota yang sedikit, tidak mudah untuk lolos jalur SNMPTN. Tapi saya tetap percaya diri dan yakin akan lolos dari jalur tersebut. Pilihan pertama saya adalah IPB jurusan KSHE, dan pilihan kedua UNPAD jurusan sosek agribisnis. Saya mulai serius dengan tes ini, setiap hari saya belajar, bertanya kepada teman yang bisa membantu saya dalam belajar, meminta soal-soal SNMPTN dari kakak-kakak kelas. Saya pun ikut bimbel untuk menghadapi SNMPTN. Karena ke inginan saya untuk lolos, saya sampai menginap selama 3 hari di tempat bimbel tersebut.
Tes pun di laksanakan di bogor, tepatnya di IPB D3 cilibende. Saya mengerjakan dengan serius, mungkin karena saya melakukan persiapa yang cukup matang saya dapat mengerjakan soal-soal tersebut dengan cepat.
Alhamdullilah, usaha saya selama ini tidak sia-sia, doa saya di kabulkan oleh Allah dan saya pun masuk IPB jurusan KSHE, sungguh bersyukur atas keberhasilan saya masuk IPB. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya akan belajar dengan benar dan lulus sebagai alumnus IPB. Ternyata jika kita memiliki keinginan yang kuat, insya allah kita dapat mendapatkannya.

Comments

cerita inspirasi 1

Azeliyan Dwi Puminda
E34100130
Laskar 11

Cerita ini berdasarkan kisah nyata dari kehidupan ayahku. Ayahku dilahirkan di batu sangkar sumatra barat pada tanggal 24 juni 1957. Ia adalah anak bungsu dari 5 bersaudara, dilahirkan dari keluarga seorang petani. Sejak kecil ayahku sudah bekerja. Pergi ke sekolah dengan membawa dagangan kue-kue dan membantu kakekku di sawah. sejak kelas 1 SD ayahku sudah bekerja seperti itu. Tidak ada sedikitpun rasa malu jika ia ke sekolah dan membawa kue-kue dagangannya. Biasanya sepulang sekolah ayahku langsung pergi ke sawah untuk bekerja membantu kakek mencangkul atau menanam padi. Sehabis bekerja ia pulang ke rumahnya dan belajar. Walaupun pada malam hari penerangan di rumahnya hanya dengan lampu minyak, ayahku tetap giat belajar dengan kakak-kakaknya, karena satu hal yang selalu menjadi keyakinan ayahku untuk mencapai kesuksesan adalah dengan belajar yang tekun.
Dengan kegiatannya sehari-hari seperti bekerja di sawah dan berdagang, sama sekali tidak mempengaruhi nilai-nilai pelajaran di sekolahnya. Selalu masuk 5 besar dari SD sampai SMA dengan nilai rata-rata pelajarannya 8.
Seperti adat istiadat minang kabau untuk anak lelakinya yang harus merantau, setelah lulus SMP ayahku merantau ke semarang mengikuti kakaknya yang sudah lebih dulu di semarang. Di semarang ayahku melanjutkan pendidikannya ke STM, karena tidak ada biaya lagi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Di STM ia mengambil jurusan teknik elektro. Dengan jarak rumah yang jauh dari sekolahnya, ayahku menaiki sepeda yang di berikan oleh kakaknya, demi mengirit uang jajannya agar dapat di pakai untuk keperluan yang lebih penting. Dengan semangat belajar yang tinggi ia mengayuh sepedanya selama bersekolah di STM. Sehabis pulang sekolah, ia membantu beres-beres rumah kakaknya seperti mengepel, menyapu, mencuci pakaian, bahkan mengasuh keponakan-keponakannya yang masih balita sebagai tanda terima kasih ayahku kepada kakaknya karena telah di biayai sekolah. Saat malam tiba ia belajar seperti biasa dengan rajin dan tekun.
Setelah lulus STM ia melamar pekerjaan ke perusahaan BUMN Telkom. Karena nilai-nilainya selama di STM lumayan baik, ia di terima bekerja di Telkom. Pekerjaan pertamanya di Telkom adalah sebagai teknisi lapangan. Memanjat tiang-tiang listrik untuk memeriksa gangguan atau memasang telepon ke rumah-rumah. Setelah beberapa tahun bekerja di Telkom ia mendapatkan tawaran beasiswa untuk mendapatkan gelar S1. Hal tersebut tidak di sia-siakannya, ia mendaftarkan diri sebagai peserta. Ia kembali belajar untuk mengahadapi tes tersebut, walaupun saat itu usianya sudah berumur 27 tahun, namun semangat belajarnya masih tinggi.
Tes pertama ia lolos, hingga tes-tes berikutnya sampai tes terakhir alhamdullilah ia lolos, dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Ayahku kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen Bandung Telkom jurusan manajemen. Hal yang menginspirasi bagiku adalah semangat juang dan semangat belajar yang dimilikinya. Segala cita-cita dapat kita gapai jika kita punya semangat dan kerja keras untuk menggapainya, itu yang selalu dikatakan ayahku.

Comments